ye, pergilah..pergilah semua..biarkan aku..sendiri dalam kepompongku... kau kononnya ingin membuka kepompongku...ternyata tak..kau pergi jua ye...aku ibarat patung..aku tak dipanggil orang..aku tak layak dilayan seperti orang..aku ada atau tak...aku tak dihiraukan keberadaan ku.. aku ibarat di dunia asing..tujuan aku ke bumi ini hanya untuk capai matlamat tertentu...aku sunyi...aku sejuk..sudikah kau menghulurkan tangan untuk ku... tapi aku tak salahkan kau..aku yang minta seperti ini..aku yang cipta keadaanku ini...aku yang minta untuk menyendiri..aku yang minta dipulaukan..aku yang memilih untuk jadi orang yang membosankan..aku yang pulaukan kau..aku yang menjauhkan diri...aku yang tutup pintu hatiku...aku tak pernah salahkan kau...tak pernah...ini semua salah aku...
Aku bukanlah seseorang yang mudah naik marah. Tapi marah itu tetap wujud dalam diriku, seperti bara kecil yang menyala dalam diam. Mungkin, bila orang lihat dari luar, mereka akan fikir aku adalah tenang, lembut. Tapi apa yang mereka tidak tahu, dalam hati aku ada ombak yang menghempas tanpa henti, penuh rasa yang tidak terungkap. Adakah lembut itu satu kelemahan? Atau sebenarnya aku cuma menipu diri sendiri, berpura-pura jadi lembut kerana takut sakiti hati orang? Aku diam bukan sebab aku setuju. Aku diam sebab aku tidak mahu bergaduh, tidak mahu hal kecil menjadi besar. Dan bila aku diam, mereka klasifikasikan aku sebagai orang yang lembut. Aku tidak meluahkan perasaan marah aku dalam bentuk kata-kata. Jadi, bila semuanya terkumpul dalam hati, ia mengalir keluar sebagai air mata. Mata ini selalu menahan, seakan-akan ada takungan kecil yang hampir melimpah, menunggu saatnya. Dan bila luka itu terlalu dalam, takungan itu pecah, mengalir deras, bersama seluruh jiwa yang bergetar. Aku ti...